Lisan Penentu Persaudaraan: Merenungi Bahaya Namimah dan Mengukuhkan Ukhuwah dalam Islam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Dalam bentangan hidup seorang Muslim, lisan adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sumber pahala yang mengalir deras, namun juga potensi petaka yang menghancurkan. Di antara petaka lisan yang paling berbahaya adalah namimah, atau mengadu domba. Sebuah dosa besar yang seringkali dianggap remeh, namun dampaknya mampu meruntuhkan pilar-pilar persaudaraan, bahkan hingga menumpahkan darah.

Pemahaman & Makna Utama

Namimah secara istilah dimaknai sebagai tindakan menukil perkataan dari suatu kaum ke kaum yang lainnya ‘alā wajhil ifsād — dalam rangka untuk merusak di antara mereka. Ia adalah jembatan yang dibangun oleh setan untuk menumbuhkan permusuhan, mengubah kehangatan persahabatan menjadi bara kebencian, dan memecah belah keluarga yang tadinya utuh.

Mengapa namimah menjadi dosa yang sedemikian besar dan berbahaya? Karena ia secara fundamental bertentangan dengan salah satu tujuan utama syariat Islam setelah tauhid, yaitu persatuan (ukhuwah). Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki hamba-hamba-Nya untuk hidup dalam kasih sayang dan solidaritas. Begitu banyak syariat yang diturunkan untuk memperkuat ikatan ini:

  • Senyum yang mendatangkan pahala karena menumbuhkan sayang.
  • Mengucapkan salam yang diperintahkan Nabi ﷺ, “Afsyus salāma bainakum” (Tebarkanlah salam di antara kalian), demi menebarkan kasih sayang.
  • Saling memberi hadiah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Tahādū tahābū” (Saling beri hadiah maka kalian saling mencintai).
  • Saling menolong dalam kebaikan dan takwa, “Ta’āwanū ‘alal birri wat taqwā”.
  • Menutup aib saudara, janji Nabi ﷺ, “Man satara musliman satarahullāhu yaumal qiyāmah” (Siapa yang menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat).
  • Bahkan salat berjamaah, sebuah ibadah yang tampak personal, disyariatkan untuk menumbuhkan keakraban dan persatuan hati.

Sebaliknya, segala hal yang dapat mengantar pada pertikaian dan perpecahan dilarang keras. Ghibah (menggunjing) dilarang, namimah dilarang. Bahkan berbisik-bisik antara dua orang tanpa melibatkan yang ketiga pun dilarang oleh Nabi ﷺ, karena dapat menimbulkan kesedihan atau buruk sangka. Ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga keutuhan hati dan hubungan antar sesama.

Sungguh, syariat Islam begitu agung, sampai-sampai dusta pun bisa dibolehkan jika tujuannya mendamaikan dua pihak yang bersengketa (ishlāh dzātil bain), demi mengembalikan kasih sayang. Sebaliknya, kejujuran sekalipun dapat menjadi haram jika ia justru memicu permusuhan, sebagaimana halnya ghibah dan namimah. Keduanya mungkin menyampaikan fakta, tetapi jika fakta itu digunakan untuk merusak dan memecah belah, maka ia adalah perbuatan dosa yang keji.

Hikmah & Renungan Kehidupan

Namimah bukan sekadar membicarakan orang lain, melainkan sebuah tindakan yang membawa misi merusak. Ia adalah program utama setan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi dia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba di antara mereka.” Ini adalah prioritas iblis: jika tauhid tak dapat digoyahkan, maka persatuan umatlah yang akan dihancurkan. Kisah Qabil dan Habil, serta konflik saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, menjadi bukti nyata bagaimana setan bekerja melalui adu domba, jauh sebelum kesyirikan meluas.

Maka tak heran jika seorang pelaku namimah disebut sebagai rasul setan, utusan iblis. Jika Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasulullah yang membawa rahmat dan persatuan, maka tukang namimah adalah rasul iblis yang membawa laknat dan perpecahan. Iblis bahkan menempatkan keberhasilan memisahkan suami dan istri sebagai prestasi tertinggi para bala tentaranya.

Betapa kuat efek namimah ini, hingga Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu Ta’ala menyebutkan namimah sebagai bagian dari sihir. Rasulullah ﷺ pun pernah bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sihir? Di antaranya adalah namimah — menukil perkataan untuk mengadu di antara manusia.” Ini karena namimah bekerja secara tersembunyi, tak kasat mata, namun efeknya merusak fondasi hubungan secepat kilat, bahkan melampaui kemampuan sihir dalam setahun, sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Abi Katsir Al-Yamami.

Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Siapa yang bernamimah kepadamu (menceritakan keburukan orang lain), dia juga akan menceritakan keburukanmu kepada orang lain.” Sebuah pengingat tajam bahwa sifat buruk itu adalah kebiasaan yang tidak mengenal loyalitas, melainkan hanya bertujuan merusak.

Bahaya namimah tidak hanya terasa di dunia, melainkan berlanjut hingga akhirat. Pelaku namimah digambarkan sebagai manusia terburuk di sisi Allah, memiliki dua wajah (munafik) yang kelak di Hari Kiamat akan memiliki dua lisan dari api neraka. Puncaknya, ia adalah golongan yang tidak akan masuk surga dan akan diazab di alam kubur sebagai mukadimah azab neraka. Ini menunjukkan betapa beratnya dosa merusak hubungan persaudaraan di mata Allah.

Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Di era informasi saat ini, bahaya namimah semakin relevan dan mudah menyebar. Pesan singkat, media sosial, atau bahkan bisikan-bisikan di komunitas kecil, bisa menjadi medium yang sangat efektif bagi namimah untuk beraksi. Bagi Muslim intelektual, profesional, atau bahkan para mualaf yang sedang membangun pondasi keimanan, menjaga lisan dan hati dari namimah adalah sebuah keharusan.

Bagaimana kita bersikap terhadap namimah dan para pelakunya?

  1. Jangan mudah membenarkan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang orang fasik membawa berita maka cross check lah (tabayyun).” (QS. Al-Hujurat: 6). Segala informasi yang berpotensi merusak hubungan harus diverifikasi dengan cermat. Jangan sampai kita menjadi korban adu domba yang menghancurkan keluarga, persahabatan, atau bahkan keutuhan komunitas kita, termasuk di Mualaf Center Medan.
  2. Jangan berburuk sangka. Setelah tabayyun, hindarilah prasangka buruk yang tidak berdasar. Allah berfirman, “Jauhilah banyak prasangka.” (QS. Al-Hujurat: 12). Berburuk sangka adalah pintu masuk bagi setan untuk mengobarkan api permusuhan.
  3. Hindari tajassus (mencari-cari kesalahan). Jika ada yang datang membawa berita namimah, jangan kita ikuti dengan mencari tahu lebih jauh keburukan orang yang diceritakan. Anggap saja seolah tidak pernah ada yang datang. Menjadi pencari-cari kesalahan adalah dosa lain yang seringkali menyertai namimah.
  4. Ingkari dan nasihati. Tidak cukup hanya tidak membenarkan, kita juga harus mengingkari dan menasihati pelaku namimah agar ia tidak lagi terbiasa dengan perbuatan itu. Dengan tegas menolak namimah, kita menutup celah bagi setan untuk menyebarkan racunnya.

Kisah budak tukang namimah yang berakhir dengan pertumpahan darah dan kisah orang hasad yang menjebak sang raja mengajarkan kita betapa lihainya pelaku namimah beraksi, seringkali berkedok nasihat atau kebaikan. Bahkan para dai dan ulama seperti Ibnu Taimiyah pun pernah menjadi korban fitnah namimah yang dihembuskan kepada penguasa.

Penutup & Refleksi Diri

Ukhuwah Islamiyah adalah anugerah terindah yang harus dijaga dengan segenap jiwa. Ia adalah kekuatan umat, benteng bagi mualaf, dan cerminan keindahan Islam. Namimah, dengan segala bentuknya, adalah virus yang dapat melemahkan kekompakan kita, menggoyahkan keimanan, dan merusak akhlak. Kita harus senantiasa waspada terhadap bisikan setan dan utusan-utusannya yang bersembunyi di balik lisan manusia.

Mari kita bermuhasabah, menelaah setiap kata yang keluar dari lisan kita, dan setiap informasi yang kita terima. Apakah ia membangun atau meruntuhkan? Apakah ia menyatukan atau memecah belah? Jadikan lisan kita sebagai sumber kebaikan, penebar kedamaian, dan pengukuh persaudaraan. Dengan menjaga lisan dari namimah, kita bukan hanya menjaga diri dari dosa besar, tetapi juga turut serta membangun masyarakat Muslim yang kokoh, harmonis, dan dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَ بِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ