“Sebentar pak, ini saya tunjukan fotonya ke bapak…”
Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Bang Dikky Gea, seorang pengemudi ojek online yang sore itu memberanikan diri datang ke Mualaf Center Medan. Niat awalnya adalah untuk bertanya lebih dalam tentang Islam, sebuah panggilan jiwa yang mulai ia rasakan.
Namun, di balik keingintahuannya tentang hidayah, tersimpan sebuah luka dan kerinduan yang telah ia pikul sendirian selama bertahun-tahun.
Sebuah Foto dan Rindu yang Terpendam
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Bang Dikky menceritakan masa lalunya. Sejak usia 5 tahun, ia telah terpisah dari ibu kandungnya yang berasal dari Jogja. Sang ayah, yang berasal dari Nias, memisahkan mereka dan menitipkannya ke sebuah panti asuhan.
Kini, puluhan tahun berlalu, kerinduan itu tak pernah padam. Akses untuk mencari sang ibu seakan tertutup rapat oleh ayahnya. Satu-satunya bekal yang ia miliki hanyalah selembar foto lawas, saksi bisu dari kasih ibu yang tak sempat ia rasakan sepenuhnya.
Foto itulah yang ia perlihatkan kepada kami, sebuah secarik harapan agar bisa dipertemukan kembali dengan perempuan yang melahirkannya. Kisah Bang Dikky adalah bukti nyata bahwa terkadang Allah menggiring seseorang bukan hanya untuk menemukan jalan keimanan, tetapi juga membuka jalan untuk menyembuhkan luka batin yang paling dalam.
Perjalanannya untuk mengenal Islam ternyata beriringan dengan perjalanannya mencari separuh jiwa yang hilang. Jika Anda memiliki informasi yang mungkin bisa membantu, jangan ragu untuk hubungi Mualaf Center Medan.
Mari kita doakan bersama, semoga Allah SWT memudahkan jalan Bang Dikky Gea untuk menemukan hidayah yang ia cari, sekaligus mempertemukannya kembali dengan ibu kandung yang sangat ia rindukan. Aamiin ya Rabbal’alamin.
