Executive Summary: Riya’ dan ujub adalah dua penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal, karena ia mengancam kemurnian ibadah orang-orang saleh dan dapat menggugurkan amal. Memahami dan melawan keduanya krusial demi meraih keikhlasan sejati, syarat utama diterimanya amal di sisi Allah, serta untuk mencapai ketenangan jiwa di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
Pemahaman & Makna Utama
Saudaraku seiman, dalam meniti jalan spiritual, kita kerap dihadapkan pada ujian yang kasat mata, seperti godaan maksiat terang-terangan. Namun, ada pula ujian yang jauh lebih halus, namun dampaknya bisa fatal, bahkan bagi mereka yang telah tekun beribadah. Dua penyakit hati yang dimaksud adalah riya’ dan ujub.
Riya’ dan Ujub: Ancaman Tersembunyi bagi Hamba Saleh
Sungguh, kedua penyakit ini bukan menyerang para pelaku dosa besar yang tenggelam dalam kemaksiatan. Justru, riya’ dan ujub adalah racun yang paling rentan menjangkiti hati orang-orang yang rajin beribadah—mulai dari yang tekun salat, haji, umrah, berdakwah, hingga beramal saleh lainnya. Mereka inilah yang paling perlu waspada.
Bahaya riya’ dan ujub bahkan digambarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai sesuatu yang lebih beliau khawatirkan daripada fitnah Dajjal yang maha dahsyat. Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat saat mereka membicarakan Dajjal:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيَّ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟
“Wahai para sahabatku, maukah kukabarkan kepada kalian tentang fitnah yang lebih aku takutkan daripada fitnah Dajjal?”
Para sahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah.”
Maka beliau bersabda:
اَلشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إِلَيْهِ
“Syirik yang samar — yaitu seorang yang berdiri kemudian salat, kemudian dia memperindah salatnya karena dia tahu ada orang yang sedang melihatnya.” 1
Mengapa riya’ dianggap lebih mengerikan dari fitnah Dajjal? Ada dua alasan mendalam:
- Menyerang Inti Keimanan Hamba Saleh: Fitnah Dajjal mungkin akan dapat diselamatkan oleh orang-orang saleh, sementara riya’ justru menyerang langsung hati orang saleh itu sendiri, merusak kemurnian ibadah mereka dari dalam.
- Senantiasa Mengintai: Fitnah Dajjal adalah kejadian di akhir zaman yang belum tentu kita jumpai. Namun riya’ dapat hadir kapan saja, setiap saat, mengancam amal ibadah kita setiap hari. Kita bisa saja selamat hari ini, namun esok hari ia bisa kembali menyerang.
Ikhlas: Fondasi Amal yang Diterima
Sebagai lawan dari riya’ dan ujub, ikhlas adalah pilar utama yang menopang seluruh amal ibadah kita. Tanpa keikhlasan, sehebat dan sebanyak apapun amal kita, tidak akan diterima oleh Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama mereka kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā.” 2
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya.” 3
Keikhlasan diibaratkan seperti susu yang murni (لَبَنًا خَالِصًا) yang keluar dari antara kotoran dan darah, tidak terkontaminasi sedikit pun. Begitulah ikhlas, yakni memurnikan tujuan ibadah hanya untuk Allah ﷻ semata. Sekecil apapun campuran niat mencari pujian, pengakuan, atau berharap balasan dari makhluk, akan merusak kemurnian ikhlas dan menggugurkan nilai amal di sisi Allah ﷻ.
Hikmah & Renungan Kehidupan
Kehidupan ini adalah ladang amal, dan hati adalah penentu kualitas panennya. Perenungan mendalam tentang riya’ dan ujub mengajarkan kita tentang perjuangan abadi untuk menjaga kemurnian hati.
Tidaklah Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu mengungguli para sahabat yang lainnya dengan banyak salatnya, banyak puasanya, banyak sedekahnya — tetapi dia mengungguli para sahabat karena apa yang ada di hatinya.
— Beberapa ulama Salaf, dinisbatkan kepada Abu Bakar bin ‘Ayyāsy
Kutipan di atas menegaskan bahwa amalan hati jauh lebih berharga daripada sekadar kuantitas amalan zahir. Abu Bakar as-Siddiq, dengan segala pengorbanan dan keutamaannya, menjadi teladan bahwa iman sejati bersemi di dalam kalbu yang tulus. Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap Muslim, terutama bagi mualaf yang baru mengenal Islam, bahwa yang terpenting adalah esensi niat, bukan sekadar bentuk luaran.
Renungkanlah, keikhlasan mampu mengubah amal kecil menjadi sangat besar di sisi Allah, sebagaimana kisah wanita pezina yang diampuni dosanya karena memberi minum anjing. Sebaliknya, amalan sebesar apapun bisa tak bernilai jika dihinggapi riya’ atau ujub. Di akhirat kelak, Allah ﷻ akan membongkar rahasia hati kita, sebab yang akan menyelamatkan adalah hati yang bersih dan selamat (qalb salīm).
Riya’, ‘syahwat tersembunyi’ untuk dikenal dan diakui, bukan hanya mengikis pahala di akhirat, tetapi juga membuat pelakunya menderita di dunia. Kebahagiaannya tergantung pada pujian manusia yang fana dan tidak kekal. Sebaliknya, orang yang ikhlas menemukan kebahagiaan sejati karena ia hanya bergantung pada pandangan Allah ﷻ.
Sementara ujub adalah ‘kesyirikan’ terhadap diri sendiri, merasa bahwa keberhasilan atau kelebihan yang kita miliki adalah hasil murni dari usaha kita, bukan anugerah dari Allah ﷻ. Ujub adalah pintu gerbang kesombongan yang dapat menggugurkan amal, bahkan lebih berbahaya daripada dosa yang disadari karena pelakunya merasa sudah saleh.
Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana kita, sebagai Muslim intelektual, profesional, atau pembelajar, dapat mengamalkan pelajaran ini dalam kehidupan modern yang penuh godaan?
-
Muhasabah Harian: Luangkan waktu setiap hari untuk memeriksa niat di balik setiap aktivitas. Saat melakukan ibadah, berinteraksi di media sosial, bekerja, atau berdakwah, tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa saya melakukan ini?” Apakah semata-mata mencari wajah Allah, ataukah ada harapan pujian, pengakuan, atau rasa bangga pada diri sendiri?
-
Meningkatkan Kualitas Ibadah Hati: Seperti Abu Bakar, fokus pada amalan hati. Kehadiran khusyuk dalam salat, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, rasa syukur atas nikmat, dan keikhlasan dalam setiap sedekah jauh lebih bernilai daripada sekadar memenuhi kewajiban secara fisik.
-
Melawan ‘Syahwat Tersembunyi’ di Era Digital: Di era media sosial, godaan riya’ sangat kuat. Postingan tentang amal kebaikan, foto-foto ibadah, atau pencapaian profesional dapat dengan mudah digerogoti oleh keinginan untuk di-like, dikomentari positif, atau menjadi viral. Latih diri untuk menyembunyikan amalan sebisa mungkin. Jika harus menampakkan karena kebutuhan dakwah atau motivasi, niatkan sepenuhnya karena Allah, bukan untuk popularitas pribadi.
-
Memperbanyak Doa Perlindungan: Biasakan membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku sadari — dan aku memohon ampun kepada-Mu dari kesyirikan yang aku tidak sadari.” 25
Dan ketika dipuji, berdoalah:
اَللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ
“Ya Allah, jangan Kau siksa aku atas perkataan mereka. Ampunilah aku atas apa yang mereka tidak tahu — dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka.” 26
-
Memahami Kekuatan Ayat “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”: Ibnu Taimiyah rahimahullāhu Ta’ālā menjelaskan bahwa merealisasikan ayat ini adalah kunci selamat dari riya’ dan ujub. “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah” (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) adalah tameng dari riya’, karena seluruh ibadah murni untuk Allah. Dan “hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) adalah benteng dari ujub, karena segala keberhasilan adalah murni pertolongan Allah, bukan karena kekuatan diri kita. Ini adalah inti tauhid dalam setiap napas kehidupan.
-
Berpegang pada Akhlak Nabi ﷺ: Bagi mualaf dan umat Islam di Indonesia, teladan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam kesederhanaan, rendah hati, dan keikhlasan harus menjadi acuan. Banyak pemimpin dan tokoh yang dihargai karena ketulusan hatinya, bukan karena pencitraan semata. Menjaga lisan dari menceritakan amal kebaikan kita dan fokus pada kebermanfaatan adalah bentuk nyata perjuangan melawan riya’ dan ujub.
Penutup & Refleksi Diri
Riya’ dan ujub adalah musuh dalam selimut yang terus mengintai hati, berpotensi menghancurkan pahala dan memupuskan harapan kita di akhirat. Perjuangan melawan keduanya adalah jihad akbar yang tiada henti, sebuah upaya penyucian jiwa (tazkiyatun nufus) yang harus kita pupuk sepanjang hayat. Mari kita senantiasa memohon kepada Allah ﷻ agar dianugerahi keikhlasan dalam setiap langkah, perkataan, dan perbuatan.
Semoga Allah ﷻ mewafatkan kita di atas keikhlasan yang sempurna, menjadikan amal-amal kita diterima di sisi-Nya, serta melindungi kita dari godaan riya’ dan ujub yang samar. Karena sesungguhnya, kebahagiaan sejati bukanlah pada pengakuan manusia, melainkan pada ridha Allah ﷻ semata.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
